Archive for the ‘ teknik kimia ’ Category

DIMETHYL TEREPHTHALATE (DMT)

Salah satu industri yang berkembang pesat adalah industri polimer yang menghasilkan bahan-bahan polimer untuk kebutuhan alat-alat rumah tangga, pakaian dll. Salah satu bahan dasar yang dibutuhkan industri polimer adalah Dimethyl Terephthalate (DMT). DMT adalah dimethyl ester dari asam terephthalic (AT). DMT pertama kali diproduksi pada tahun 1950. ( Mc. Ketta 1982 )

AT diproduksi dari p-xylene yang dioksidasi dengan asam nitrit. Technical grade AT masih banyak mengandung produk-produk samping seperti color-forming nitorgen compound dan logam-logam katalis. Zat-zat pengotor ini sulit untuk dipisahkan, dan akan lebih ekonomis dan lebih efisien jika technical grade AT dipurifikasi dalam bentuk DMT. Walaupun saat ini sudah banyak sekali diproduksi polimer grade AT (PTA) dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi, DMT tetap diperlukan karena beberapa resin harus menggunakan DMT dengan alasan teknis. Continue reading

Advertisements

KROMATOGRAFI HPLC DAN GC

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan yang menggunakan fase diam (stationary phase) dan fase gerak (mobile phase). Dalam kromatografi, komponen-komponen terdistribusi dalam dua fase. Transfer massa antara fase bergerak dan fase diam terjadi bila molekul-molekul campuran serap pada permukaan partikel-partikel atau terserap di dalam pori-pori partikel atau terbagi kedalam sejumlah cairan yang terikat pada permukaan atau didalam pori. Kromatografi dibagi menjadi beberapa macam, dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa keterangan tentang beberapa macam kromatografi, antara lain HPLC ( High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography).

  1. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi/HPLC( High Performance Liquid Chromatography)

HPLC adalah alat yang sangat bermanfaat dalam analisis. Bagian ini menjelaskan bagaimana pelaksanaan dan penggunaan serta prinsip HPLC yang sama dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom. HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi, didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebih cepat. Continue reading

PENGETAHUAN UMUM TENTANG KACA

1. Definisi Kaca

Kaca merupakan sebuah substansi yang keras dan rapuh, serta merupakan padatan amorf. Hal ini dikarenakan bahan – bahan pembuat kaca bersifat amorf yang mana dapat meleleh dengan mudah. Kaca merupakan hasil penguraian senyawa – senyawa inorganik yang mana telah mengalami pendinginan tanpa kristalisasi. Komponen utama dari kaca adalah silika. Dalam kehidupan sehari – hari kaca digunakan sebagai cermin, insulator panas, alat – alat laboratorium, dekorasi, dan pembatas ruang.

Menurut Adams dan Williamson, kaca adalah material amorf yang pada suhu biasa mempunyai bentuk yang keras, tetapi apabila dipanaskan, lama kelamaan akan menjadi lunak, sesuai dengan suhu yang meningkat dan akhirnya menjadi kental hingga mencapai keadaan cair. Selama proses pendinginan terjadi proses yang berkebalikan dengan proses peleburan kaca. Kaca memiliki sifat yaitu tahan terhadap bahan kimia, efektif sebagai isolator listrik, dapat menahan vakum. Selain memiliki sifat-sifat tersebut, kaca merupakan bahan yang rapuh dan tidak tahan terhadap benturan. Continue reading

PABRIK BUBUR DAN KERTAS (Pulp and Paper Mills)

Uraian Singkat Industri Kertas

Pabrik kertas dibuat dari bahan-bahan mentah yang mengandung fibers (serat), biasanya dari kayu, kertas daur ulang dan limbah pertanian. Di negara berkembang, lebih dari 60% serat selulosa bahan bakunya bukan berasal dari kayu, melainkan dari ampas tebu, sekam gandum, bambu, alang alang, rumput esparto, rami, flax, dan sisal. Hal ini menjadi masalah lingkungan pada pabrik pembuatan kertas dengan kapasitas produksi diatas 100 ton per hari. Continue reading

PENANGANAN LIMBAH SECARA FISIK DAN KIMIA

Desinfeksi

Desinfeksi pada limbah cair bertujuan untuk mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri pathogen. Desinfeksi dapat dilakukan antara lain dengan berbagai metode dan bahan kimia seperti dengan klorin, yodium, ozon, senyawa ammonium kuarterner dan lampu ultraviolet. Berdasarkan perhitungan ekonomis, efisiensi, dan kemudahan penggunaannya maka penggunaan klorin merupakan metode yang paling umum digunakan.

Klorinasi juga dapat menyebabkan turunnya kadar BOD dan mengoksidasi komponen tereduksi dalam air. Komponen besi dan mangan yang terdapat dalam air dapat dioksidasi menjadi komponen feri dan mangan yang mengendap. Proses oksidasi lainnya dapat terjadi pada komponen H2S dan nitrit. Continue reading

BAKU MUTU AIR LIMBAH

Dua jenis penetapan baku mutu yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran air :

  1. baku mutu air yang ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah dalam hal penggunaaannya, atau dikenal dengan stream standard

  2. effluent standard yaitu baku mutu air limbah yang ditetapkan dengan dasar pertimbangan sebagai berikut :

  • Kebutuhan praktis. Baku mutu air limbah yang dibuat harus dapat dicapai oleh pengguna dan dapat dilaksanakan dengan mudah.

  • Penggunaan teknologi. Pendekatan optimum yang digunakan oleh kebanyakan Negara dalam menetapkan baku mutu air limbah adalah dengan menerapkan teknologi yang tepat, dan akan dilaksanakan secara bertahap.

  • Penggunaan parameter kunci. Baku mutu air limbah yang ditetapkan di Indonesia diprioritaskan pada pengendalian zat pencemar yang dapat dipantau secara efektif, seperti bahan organic yaitu BOD dan COD, padatan tersuspensi dan parameter lain yang diprioritaskan (ammonia, sianida, fenol dan logam berat). Hanya parameter kunci yang dikendalikan.

  • Evaluasi ekonomi. Penentuan teknologi pengolahan yang didasarkan pada pertimbangan ekonomi.

Baku Mutu Air (Stream Standard)

Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat, energy atau komponen lain yang ada atau unsur pencemar yang masih ditenggangkan keberadaannya pada air dan sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya. Dengan ditetapkannya baku mutu air untuk setiap peruntukannya dan dengan memperhatikan kondisi airnya, akan dapat dihitung secara teoritis beban pencemaran yang dapat ditenggang keberadaannya oleh badan air penerima sehingga air tetap berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Beban pencemaran adalah banyaknya unsur pencemar yang terdapat didalam air atau air limbah. Continue reading

Teknologi LLDPE (Linear Low Density Polyethylene)

Industri petrokimia merupakan salah satu industri kimia yang penting di dunia, begitu pula di Indonesia. Perkembangan industri petrokimia terbagi dalam dua bagian besar, yaitu industri petrokimia hulu (upstream petrochemical) dan Industri petrokimia hilir (downstream petrochemical). Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah crude oil menjadi bahan baku untuk industri hilir. Contoh produk industri hulu adalah ethylene, propylene, butadiena, xylene. Sedangkan industri hilir adalah industri yang menghasilkan produk-produk jadi yang siap pakai seperti polyethylene yang bila diolah lebih lanjut dapat dibuat menjadi berbagai produk plastik.

Polyethylene pertama kali ditemukan oleh tim peneliti dari Imperial Chemical Industries, Ltd (ICI) Inggris pada tahun 1933 dalam sebuah percobaan tak terduga dimana ethylene dan benzaldehyde merupakan sisa reaksi dari polimer lilin pada temperatur 170 oC dan tekanan 190 MPa, kemudian dipatenkan pada tahun 1936 [Ulman’s encyclopedia, 1992]. Pada tahun 1940 polimer ethylene mulai diperkenalkan secara komersial. Produksi komersial resin poliethylene dengan densitas yang rendah (0,925 dan 0,935 g/cm3) dimulai pada tahun 1968 di Amerika Serikat oleh Phillips Petroleum co.

Salah satu produk polietilen adalah LLDPE (Linear Low Density Polyethylene). Teknologi yang dapat dipakai dalam pembuatan LLDPE meliputi polimerisasi fase gas (gas-phase fluidized-bed polymerization), polimerisasi dalam larutan (polymerization in solution), dan polimerisasi suspensi (slury polymerization). Setiap proses memiliki spesifikasi katalis tertentu yang membantu jalannya reaksi. Continue reading