Mengenal Xylitol Gula Langka yang Menyehatkan

Anda mungkin pernah mendengar nama xylitol pada beberapa produk seperti permen dan pasta gigi. Jenis gula ini dinilai dapat mengatasi masalah kesehatan gigi dan lainnya. Namun apa sebenarnya kelebihan xylitol dibandingkan jenis gula lain yang kita kenal selama ini?

Xylitol sebenarnya bukan merupakan molekul gula monosakarida (gula tunggal) yang memiliki gugus kimia aldehida (seperti pada glukosa) atau keton (seperti pada fruktosa). Gula langka ini merupakan senyawa berkarbon lima dengan lima gugus alkohol/ hidroksil (disebut juga pentitol).

Xylitol disebut gula langka karena hanya sedikit terdapat pada buah dan sayuran alami dan pembuatannya boleh dikatakan cukup sulit dibanding senyawa pemanis lainnya. Oleh karena itu dari segi harga pun, xylitol merupakan salah satu pemanis termahal dibanding pemanis lainnya.

Tingkat kemanisan xylitol yang setara dengan sukrosa (gula dapur) membuatnya banyak digunakan sebagai pemanis produk makanan dan confectionary. Kelebihannya dibanding sukrosa adalah energinya yang lebih rendah, yaitu hanya 2.4 kalori/gram dibanding dengan sukrosa yang mencapai 4 kalori/gram. Xylitol juga memiliki kelarutan yang sangat baik di dalam air dan
menimbulkan sensasi dingin ketika larut di mulut sehingga banyak digunakan pada produk
permen mint, permen karet, dan
pasta gigi. Namun lebih dari itu
semua kelebihannya yang utama
adalah efek biologisnya yang
menyehatkan.

Xylitol yang memiliki kalori
yang rendah sangat bermanfaat
sebagai pemanis makanan/
minuman bagi penderita
diabetes. Gula langka ini juga
bermanfaat mencegah karang
gigi dan karies. Hal ini
dikarenakan keberadaan xylitol
akan menekan pertumbuhan
bakteri di dalam mulut yang
kebanyakan mengonsumsi
glukosa sebagai bahan makanan
mereka, sehingga bakteri
tersebut tidak dapat berkembang
biak dengan baik pada kondisi
tinggi xylitol. Manfaat xylitol
inilah yang telah digunakan pada
dunia kedokteran gigi dan juga
pada beberapa produk
perawatan dental seperti permen
karet anti-karies dan pasta gigi.
Selain itu, xylitol juga ditemukan
dapat mencegah infeksi telinga
pada anak-anak.
Saat ini industri xylitol sangat
menjanjikan dan teknologi
sintesisnya terus
dikembangkan. Gula langka ini
memang sulit diperoleh secara
alami dan harus disediakan
lewat jalan sintesis kimiawi
atau biologis. Jalur sintesis
kimiawi untuk xylitol antara lain
dengan hidrogenasi D-xylosa
menggunakan katalis logam.
Namun, dikarenakan D-xylosa
merupakan prekursor yang
cukup mahal, saat ini para
ilmuwan tengah
mengembangkan teknik sintesis
xylitol dari D-glukosa.
Selain sintesis secara kimiawi,
metode sintesis lainnya yang
paling banyak digunakan adalah
dengan metode bioteknologi
mikrobiologi. Metode ini
menggunakan mikroorganisme
yang diberi “makan” berupa gula
xylosa sehingga akan
menghasilkan xylitol yang
kemudian akan dipanen.
Mikroorganisme yang cukup
potensial untuk menghasilkan
xylitol antara lain ragi
Saccharomyces cereviseae dan
Candida utilis . Kelebihan metode
ini ialah hasilnya yang mencapai
persentase yang lebih tinggi
dibanding sintesis kimiawi yaitu
hingga mencapai 95% hasil.
Tetapi jelas metode ini
membutuhkan fasilitas teknologi
yang maju dan relatif mahal.
Di Indonesia sendiri, xylitol
masih diimpor dari luar karena
ketiadaan teknologi untuk
sintesisnya. Sebagai produk
yang cukup menjanjikan di masa
depan, tentu kita berharap
Indonesia dapat berswasembada
xylitol lewat kerjasama para
ilmuwan, industri, dan
pemerintah.

sumber

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: