ISLAM DI SPANYOL: KEMAJUAN ILMU, FILSAFAT, SAINS DAN SENI

Drs. FAUZUL IMAN, M.A.

I. PENDAHULUAN

Ekpansi Bani Umayyah/Islam ke wilayah Sepanyol pada tahun 92 H/711 M di zaman Khalifah Al-Walid Abdul Malik 705-715 M. — sebagaimana dilakukan oleh Tariq Ibn Ziad — membawa applikasi yang sangat besar bagi perkembangan dan pembangunan wilayah tersebut. Sebagai diketahui, sebelum datangnya Islam, Sepanyol berturut-turut telah berada di bawah kekuasaan Romawi, Jerman dan penguasa Got. Ketika Sepanyol di bawah kekuasan Got masyarakatnya menduga bahwa negerinya akan terbebas dari ancaman, tetapi dugaan itu tidak dapat dibuktikannya karena penguasa Got tampil lebih menyeramkan lagi, ia bertindak paling kejam kepada orang-orang Yahudi dan melindungi orang-orang yang beragama Keristen.

Tindakan penguasa Got yang berat sebelah ini, membawa negeri Sepanyol terpuruk dalam jurang perbedaan sosial (social gap) yang tajam antara bangsa yang beragama Keristen dan bangsa yang beragama Yahudi sehingga boleh dikatakan dalam negeri ini sistim sosial kehidupaa terbelah ke dalam dua golongan; golongan bangsawan atau pemerintah terdiri dari pemeluk Keristen dan golongan rakyat biasa terdiri dari pemeluk agama Yahudi.

Di bidang kehidupan ekonomi, masyarakat di Sepanyol dapat dikelompokkan menjadi dua golongan; yaitu golongan kaya yang terdiri atas penguasa dan golongan miskin yang terdiri dari rakyat biasa. Kedua golongan ini terdapat perbedaan yang menyolok, karena hanya si kayalah yang bertindak sebagai tuan tanah yang selalu melakukan penindasan terhadap si miskin yang mencari makanan dan mengerjakan sawah milik tuan tanah.

Dalam kehidupan politik, masyarakat Sepanyol berada dalam kekacauan karena adanya pertikaian Yulian dan Ridrick. Di dalam sejarah digambarkan bahwa Redrick menodai anak Yulian yang cantik dan manis. Yulian merasa sakit hati atas ulah dan kekejian Redrick sehingga ia ingin membalas dendam kepadanya. Untuk memperkuat perlawanannya itu, Redrick meminta bantuan kepada umat Islam.

Kehadiran Islam dalam situasi masyarakat Sepanyol yang demikian menyedihkan, bukan sekedar diterima oleh Yulian — sebagai yang meminta dukungan — melainkan melalui ajaran-ajarannya yang menekankan hidup saling menghormati antara sesama dan golongan, ia mampu mengembalikan citra kehidupan masyarakat Sepanyol ke dalam tatanan sosial yang baru; dari situasi kehidupan yang renggang (skretarianis) ke dalam kebersamaan yang kental (egaliter). Perubahan ini membawa implikasi baru/besar bagi upaya Islam kemudian dalam membangun masyarakat Sepanyol di bidang peradaban; agama, filsafat, sain dan seni. Makalah ini akan mencoba menelusuri dan mengungkapkan kemajuan Sepanyol di bidang peradaban tersebut.

 

II. KEMAJUAN ILMU AGAMA

Kemajuan Ilmu agama di Sepanyol ditandai oleh munculnya ulama- ulama kenamaan yang masing-masing membidangi disiplin ilmu agama. Di antara mereka tercatat ahli Hadis, ahli fiqh, ahli ilmu kalam dan ahli ilmu tasauf. Beberapa ulama Sapanyol yang terkenal di bidang Hadis ialah Ibn Hazm, Syekh Abdullah ibn Yasin, Muhammad Ibn Tumrat, Ya’qub al-Mansur, Abu ‘Amr Yusuf ibn Abd al-Barr, Abu al-Walid al-Baji, Abu Al-Walid ibn Rusyd, Ibn Ashim, dan Abu ‘Ali al-Husain ibn Ahmad al-Ghassani.

Ilmu fiqh berkembang di negeri ini, — apa lagi — setelah ulama Al-Awzai terkenal namanya di propinsi-propinsi Andalus (Sepanyol) di zaman Abdurrahman I. Kemudian disusul oleh munculnya murid-murid Imam Malik yang mengembangkan fiqih gurunya. Di antara murid Imam Malik yang terkenal ialah Abdul Malik Al-Sullami, Yahya ibn Yahya al-Laitsi, dan Isa ibn Dirar. Di zaman Hisyam (788-796 M) fiqh karangan Imam Malik — Al-Muatta — disalin dan disebarkan ke seluruh imperium.

Salah seorang murid Imam Malik yang dalam dan luas ilmunya, berwibawa dan disegani — sebagai sudahtersebut di atas — ialah Yahya ibn Yahya al-Laitsi. la dikenal sebagai ulama fiqh yang menjabat qadli al-qudlah. Yahya juga dikenal dengan fatwanya bahwa seseorang yang melakukan hubungan antara suami isteri di bulan Ramadhan, kafaratnya adalah puasa dua bulan berturut-turut. Fatwa ini ditujukan kepada Abdurrahman al-Nashir yang melakukan hal tersebut. Yahya tidak memfatwakan pendapat Imam Malik yang membolehkan memilih antara memerdekakan hamba sahaya dan puasa dua bulan berturut-turut. Yahya hanya melepaskan pendapat Imam Malik karena, menurutnya, bila ini yang difatwakan maka Amir tiap hari akan melakukan hubungan suami isteri di siang hari Ramadhan, sementara membebaskau hamba sahaya bagi Amir bukanlah beban hukuman yang dianggap memberatkan.

Isa ibnu Dinar juga dikenal sebagai faqih yang luas pandangannya dan banyak menghasilkan karangan buku di bidangnya. Diantara buku yang pernah ditulisnya ialah Al-Hidayah. Buku ini dinilai oleh lbn Hazm sebagai fiqh madzhab Maliki yang terbaik, sedangkan penduduk Sepanyol memandang karya fiqh Ibn Dinar sebagai yang terluas dan dalam isinya dari pada fiqh Yahya al- Laitsi. Adapun ulama fiqh yang sangat terkenal di negeri ini ialah Ibn Rusyd dengan karya monumentalnya Bidayah al- Mujtahid.

Di bidang ilmu kalam terkenal namanya Ibn Hazm, ia banyak me-ngoreksi dan menyanggah pendapat-pendapat Islam dan ilmu kalam Mu’tazilah, Asy’ariah, Khawarij, Murjia’h, Syiah dan ilmu kalam lainnya. Ibn Hazm terkenal sebagai ulama yang besar andilnya dalam memurnikan aqidah sehingga gebrakan pemurniannya tidak hanya tertuju kepada aliran-aliran Islam — sebagai disebut di muka — serangan yang paling keras diarahkan kepada faham Yahudi dan Nasrani. Philip K. Hitti menyebutnya sebagai ulama besar di Sepanyol yang berfikir paling orisinil.

Ilmu agama lain yang turut mewarnai di negeri ini (Sepanyol) ialah tasawuf. Di antara tokohnya ialah Ibn Masarrah (296 M), seorang keturunan Qordova yang berfaham mu’tazilah. Ia tidak meyebarkan faham mu’tazilah ini ke masyarakatnya karena faham ini masih asing di hati mereka. Ibn Masarrah telah mewariskan ilmunya ke murid-muridnya ialah Al-Hasyimi, Abu Bakr Muhammad dan Muhyidin ibn Arabi. Nama yang terakhir ini sufi besar dengan konsep tasawufnya wahdah al-wujud.

 

III. KEMAJUAN ILMU BAHASA

Kemajuan di bidang ilmu bahasa yang meliputi philology(ilmu bahasa), gramer dan lexicograhy, menurut Philip K. Hitti, tidak selengkap sebagaimana yang pernah berkembang di Irak.Namun upaya pembukuan yang mencatat tokoh-tokoh kenamaan di bidang ilmu bahasa telah dilakukan oleh Ibn Hasan al-Zubaydi, murid al-Qalli, berketurunan Him dan dilahirkan di Seville. Upaya pembukuan itu dilanjutkan secara ektensive (lengkap) oleh Sayuthi dalam kitabnya Muzhir.

Perkembangan llmu bahasa di Sepanyol memang tidak selengkap di Irak, akan tetapi, di negeri ini masih dapat disebutkan adanya beberapa ahli ilmu bahasa yang terkenal ialah Abu Ali al-Qali, Abdurrahman al-Mashir, al-Hakam al-Mustansir dengan kar-yanya Al- Kamil Fi il-Lughhah dan Al-Amali, dan Yahya ibn Daud (Judah ben-David), seorang ahli tata bahasa yang beragama Yahudi.

 

IV. KEMAJUAN BIDANG SAINS DAN FILSAFAT

Sain dan filsafat merupakan dua bidang peradaban yang sama-sama berkembang dengan pesat di negeri Sepanyol. Perkembangan dua bidang; sains dan filsafat ini tidak hanya kegiatan keilmuan saja tetapi juga sangat erat dengan kebutuhan kehidupan manusia pada waktu itu. Oleh karena itu, munculnya ahli astronomi, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli kedokteran dan ahli filsafat –seperti halnya sekarang — kehadirannya sangat berguna tidak saja alat untuk mengetahui tetapi juga dapat menjaga eksistensi dan martabat kehidupan manusia.

Sebagai contoh bergunanya sains bagi pengetahuan manusia di zaman Islam Sepanyol, seperti diungkapkan oleh Philip K. Hitti bahwa para ahli astronomi Sepanyol meyakini adanya penga-ruh bintang (astral) bagi peristiwa kematian dan kelahiran di muka bumi. Ilmu astronomi juga digunakah oleh mereka untuk mengetahui letak dunia di antara garis lintang dan garis bujur.

Di antara ahli astronomi Sepanyol yang paling masyhur waktu itu ialah al-Majriti (1007) dari Cordova, al-Zarqali (1629-1087) dari Toledo dan Ibn Aflah (1140) dari Seville. Al-Majriti adalah salah seorang pakar sains muslim Sepanyol yang telah dengedit dan me-ngoreksi tabel-tabel perbintangan Al-Khawarizmi. Di bidang ilmu tumbuh-tubuhan dan pengobatan telah dikembangkan juga di Sepanyol. Muslim Sepanyol telah berhasil menjadi peneliti di dalam mengamati segi perbedaan tanam-tanaman dengan tepat, misalnya perbedaan antara pohon palm dan pohon rami. Mereka (para peneliti muslim) memerinci (mengkelasifikasi) tanam-tanaman yang tumbuh dari cangkokan, dari benih dan yang tumbuh secara sepontan. Di antara peneliti yang pernah membuktikan hal tersebut ialah Ibn Sab’in ketika menjawab pertanyaan raja Frederick.15) Karena bahan-bahan pengobatan itu berasal dari tumbuh-tumbuhan, para dokter — seperti al-Ghafiqi dan Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad — menghimpun tanam-tanaman itu dan masing-masing diberi istilah dari bahasa Latin, Berber dan Arab, kemudian untuk memahaminya dari bahasa asing tersebut dengan bahasa Arab. Istilah-istilah itu terhimpun dalam karya utamanya Al-Adawiyah Al-Mufradah.

Ahli botani yang paling populer di Sepanyol sebagai penerus sebelumnya ialah Ibn Al-Bayyat. Ia dilahirkan di Malaga dan sering melakukan perjalan-an ilmiah di Afrika Utara dan Mesir. Di Mesir ia bertemu dengan seorang ahli botani yang bernama Ayub Al- Kamil. Ia meninggal dunia pada tahun 1248 di Damaskus, karya- karyanya diabadikan oleh temannya al-Salih al-Ayub. Salah satu dari karya-karyanya yang terkenal Al-Mughni Fi al- Mufradah.

Pakar lain di bidang sains ialah Ibn Abi Al-Shalt, dan Al-Abbas ibn Farnas. Ibn Abi Al-Shalt dikenal sebagai ahli mesin, sedangkan Ibn Farnas dikenal sebagai ahli astronomi, matematik, seni dan ahli musik. Iba Farnas pernah melahirkan ide bagaimana caranya agar manusia bisa terbang seperti burung dengan sayap buatan. Di bidang ilmu bumi yang terkenal dengan perlawatannya ke berbagai negara ialah Ibn Jubair dan Ibn Bathuthah, sedangkan yang tercatat sebagai ahli sejarah ialah Ibn Habib, Ibn al- Quthiyah, dan Ibn Hayyan, Ibn Syakwal, Ibn al-Abbar dan Ibn Abd Al-Barr.17)

Kemajuan di bidang ilmu filsafat di negeri Sepanyol ditandai oleh lahirnya tokoh-tokoh kenamaan filosuf antara lain; Ibn Bajah, Ibn Tufail dan Ibn Rusyd. Ibn Bajah dilahirkan di Saragosa pada tahun 1138, beberapa tahun ia menetap di Seville dan Granada. Ia meninggal di kota Fez karena diracun oleh musuh-musuhnya, karyanya yang terkenal ialah The Rule of the Solitary. lbn Bajah dikenal sebagai ahli matematika, astronomi dan musik. Karya filsafatnya menjelaskan pemikiran Aristoteles. Ibn Thufail mengakui bahwa Ibn Bajah adalah seorang filosuf yang cerdas dan jauh pemikirannya.

Ibn Thufail di barat dikenal dengan Abubacer; ia lahir di Granada. Pada awalnya ia menekuni bidang kedokteran kemudian tertarik dengan ilmu filsafat. Karya monumentalnya yang paling populer ialah Hayyun ibn Yaqdhan, sebuah roman filosofis yang kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol, Perancis, Inggris dan Jerman. Ibn Thufail sangat dekat dengan Abu Ya’qub Yusuf, Khalifah Dinasti Muwahiddin karena menjadi penasehat dan dokter peribadinya.

Ibn Rusyd adalah filosuf besar yang sangat berpengaruh di barat, dilahirkan di Cordova pada tahun 1126, di Eropa dikenaldengan nama Averroes. Ia juga ahli di bidang asronomi dan kedokteran. Lingkungan keluarganya sangat mencintai ilmu pengetahuan, diantaranya ada yang menjadi ahli teologi dan qadhi. Ibn Rusyd telah berjasa membuat ringkasan dan tafsiran-tafsiran filosuf Yunani. Karya filsafatnya yang paling utama ialah al- Tahafut dan Fasl Al-Maqal. Buku yang pertama ditulis sebagai jawaban terhadap serangan Al-Ghazali di dalam bukunya Tahafut al- Falasifah.

 

V. SASTRA DAN ARSITEKTUR

Sepanyol dengan pusat kebudayaannya di Cordova tak dapat disangsikan lagi, namanya telah terkenal di seluruh dunia. Di samping telah melahirkan pakar sains dan ilmu agama, yang pengaruhnya sangat besar — khusus bidang sains — di Eropah, juga telah mengembangkan bidang seni budaya yang meliputi seni bahasa, seni rupa seni bangun, seni suara dan seni musik.

Di bidang puisi — di negeri Sepa-nyol — telah bermunculan para penyair antara lain Ibn Abd Rabbih, Ibn Darraj, Ibn Hani Al- Andalusi, Ibn Syuhaid, Ibn Abbad dan Ibn Quzman. Di bidang seni bangun, Islam di Sepanyol telah mewariskan bangunan dengan gaya arsitektur yang indah dan unik. Bangunan itu dikenal dengan istana Alhambra terletak di Granada di halamannya terdapat tanam- tanaman dan air mancur yang indah dan menyenangkan. Penampilan/gaya arsitektur Islam di Sepanyol ini, hingga sekarang masih ditiru oleh orang-orang Eropa.21)

 

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG KEMAJUAN ISLAM DI SEPANYOL

Ada dua hal yang mejadi patokan untuk menganalisa faktor-faktor yang mendorong Islam Sepanyol di bidang peradaban yaitu; (1) Kondisi Khilafah Bani Umayyah di Damaskus, (2) Masa-masa Khalifah Bani Umayyah di Sepanyol. Kedua hal ini secara singkat akan dijelaskan;

1) Kondisi Khilafah Bani Umayyah Di Damaskus

Ketika Bani Umayyah melakukan ekpansi ke Sepanyol, kondisi kerajaannya sedang berada pada puncak kejayaan. Pada masa ini puncak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Walid bin Abdul Malik (685-709 M). Di tangan Walid pembangunan di bidang eko-nomi, sosial, politik dan militer telah dijalankan dengan baik dan mapan. Sebagai bukti dari keberhasilannya itu ialah pembangunan besar-besaran di kota suci Madinah, perluasan masjid Madinah dan membuat jalan-jalan yang memudahkan naik haji ke Makkah. Di bidang militer, Walid telah berhasil mengkonsolidasinya sehingga ia memiliki jendral-jendral yang tangguh dan berani.22) Di zaman ini pula, tercatat adanya para ulama yang memiliki keahlian di bidang ilmu agama.

Kejayaan ini, secara psihologis — dalam menutup rasa gengsinya – – mendorong kerajaan ini memenuhi permintaan Yulian melakukan ekspansi ke Sepanyol. Karena rasa gengsi ini terdorong oleh ajaran Islam dalam mengemban misi da’wah, maka yang mendatangi ke Sepanyol adalah para militer bersama-sama dengan para ulama. Di antara para ulama yang mendarat ke Sepanyol ialah; dari kalangan sahabat tercatat antara lain Al-Munzir, sedangkan dari tabiin tercatat nama-nama; Musa ibn Nushair al-Fatih, Ali ibn Rabah, dan Hanasy ibn Abdillah al-Shana’ni.

Gambaran di atas mengisyaratkan bahwa sebelum Bani Umayyah mendatangi ke Sepanyol, secara sosiologis, ia sudah mempunyai peran ekonomi dan basis ilmu pengetahuan — khususnya — ilmu agama. Oleh karena itu, kehadiran Bani Umayyah di Sepanyol, tidak dapat diragukan lagi, — apa Iagi dengan para ulamanya — membawa peranan penting bagi peradaban Islam di Sepanyol.

2) Masa-masa Khalifah Bani Umayah di Sepanyol

Faktor-faktor yang mendorong majunya peradaban Islam pada masa- masa Khalifah Bani Umayyah di Sepa-nyol ialah sikap dan perhatian sebagian khalifah itu sendiri terhadap rakyatnya di dalam membangun pendidikan (ilmu pengetahuan), dan menciptakan persaudaraan bersama. Di antara khalifah itu adalah Abdurrahman I (756-788 M), Hisyam (788-796 M.), Abdurrahman II (822-852), Muhammad I (852-886 M), dan Abdurrahman III (912-961 M).

Abdurrahman I telah berjasa menjadikan Cordova sebagai pusat ilmu dan kebudayaan sehingga di istananya banyak didatangi oleh para pujangga. Hisyam mendorong para peneliti teologi untuk melakukan perjalanan ke Madinah guna mempelajari ajaran-ajaran Maliki. Abdurrahman II merangsang kepada para penyair, musisi dan seniman dengan memberikan hadiah-hadiah. Muhammad I dikenal sebagai penyokong dan pencinta ilmu. Dia sendiri adalah penyair, penulis dan orator. Abdurrahman III bukan saja sebagai pencinta ilmu dan pembangun eko-nomi, malah ia telah berhasil melebur ras suku, dan agama dalam satu kesatuan (konvergensi) dan toleransi.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: