Andalusia dan Spanyol Islam

Penaklukan Islam atas semenanjung Iberia merupakan kelanjutan dari penaklukan Islam atas Afrika Utara. Penaklukan-penaklukan ini terjadi sebagai hasil dari ekspedisi-eksedisi militer. Pada tahun 710 Masehi, ketika peninjauan pertama terjadi, seluruh semenanjung bersamaan dengan sebuah propinsi di Perancis sebelah tenggara yang berada di bawah kekuasaan bangsa Visigoth; namun raja yang baru saja naik tahta, Roderick, yang kebetulan kekuasaan kerajaannya telah diperselisihkan. Ketika umat Islam mencapai wilayah ini pada tahun 711 Masehi dengan 7.000 tentara, raja Roderick menyerah di medan laga dan menghilangkan jejaknya. Sejak tahun 716 Masehi, umat Islam akhirnya menguasai seluruh semenanjung dan bahkan menguasai Narbonne di Perancis selatan. Selanjutnya serangan-serangan yang dilancarkan ke Perancis, baik dari pantai barat maupun dari lembah Rhone, namun ekspedisi militer ini digagalkan oleh Charles Martel di Tours pada tahun 732 Masehi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa serangan-serangan atas Perancis itu merugikan kaum muslimin dan dapat dihentikan oleh pasukan Perancis, sekalipun Narbonne masih tetap diduduki sampai akhir tahun 751 Masehi.

Al Andalus adalah propinsi pertama dinasti Bani Umayah di Damascus. Sejak jatuhnya Bani Ummayah pada tahun 750 Masehi, seorang pangeran muda Bani Umayah yang terhindar dari penghancuran keluarganya oleh Bani Abbasiah, pada tahun 756 Masehi mulai membangun kerajaan Bani Umayah di Spanyol yang merdeka. Maka Neo-Bani Ummayah terus menguasai Al Andalus sampai dua setengah abad lamanya, dan dari tahun 930 sampai 1.000 Masehi negeri ini mengalami masa kejayaannya. Pada tahun 976 Masehi, seorang putera ke sebelas (yang baru berusia sebelas tahun waktu itu) dinobatkan menjadi raja. Maka pada masa ini pemerintahan berada di tangan Pengurus Rumah Tangga Kerajaan (kepala menteri) yang membuktikan anak yang menggantikannya sebagai seorang penguasa yang kuat. Namun demikian, sepeninggalnya pada tahun 1.008 Masehi mulailah negeri ini mengalami proses disintegrasi. Tidak lama lagi gubernemen mengontrol seluruh negeri, sekalipun sampai tahun 1.031 Masehi putera-putera kerajaan Bani Ummayah menuntut kekuasaan.

Dari tahun 1.009 sampai 1.091 Masehi yang dikenal sebagai zaman “raja-raja golongan” (reyes de taifas, muluk al-thawa’if), disebut demikian karena pada saat itu ada kurang lebih tiga raja yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Perpecahan kerajaan Islam ini memberi kesempatan kepada pangeran-pangeran Kristen di Spanyol barat laut, hiterto, yang semi merdeka dan harus membayar upeti kepada pemerintah pusat Islam, berusaha menjadikan kekuasaannya merdeka secara penuh dan memperluas wilayah teritorial yang dikuasai oleh Islam. Kesuksesan besar mereka yang pertama adalah direbutnya Toledo di tahun 1085 Masehi. Sejak saat ini kekuasaan Islam Barbar yang kuat di Afrika barat laut itu dikenal sebagai kerajaan Al-Murabitun dan kondisi ini menarik perhatian untuk membantu umat Islam Al Andalus, dengan akibat bahwa negeri mereka sendirilah yang sebagian besar wilayah teritorialnya dikuasai dari tahun 1091 sampai 1145 Masehi. Sejak saat itu kerajaan Al-Murabitun digantikan oleh Kerajaan Islam Barbar yang lain, yaitu kerajaan Al- Muwahidun yang tetap mempertahankan pusat administrasi pemerintahannya di Al Andalus hingga tahun 1.223 Masehi. Dengan hilangnya kekuasaan kerajaan Al-Muwahidun, maka penaklukan balik umat Kristen segera mengalami kemajuan dan ibu kota Cordova dikalahkan pada tahun 1.236 Masehi dan Sevilla pada tahun 1.248 Masehi. Kendatipun demikian, pada tahun 1.231 Masehi seorang muslim keturunan Arab mendapatkan kerajaan Nashrid di Granada yang tetap bertahan sampai tahun 1.492 Masehi.

Dalam kekuatan Islam menyerbu semenanjung itu, ternyata yang terjadi kemudian, lebih dilakukan oleh bangsa Barbar ketimbang oleh bangsa Arab dan kadangkala bangsa Barbar ini berlaku kurang baik. “Kelompok-kelompok” yang terjadi pada periode “raja-raja kelompok” kenyataannya adalah bangsa Arab, bangsa Barbar dan bangsa Slavia (Saqaliba). Kemudian budak-budak dari Eropa utara dan timur, bukan berasal-usul dari bangsa Slavonika yang kebanyakan pada abad sepuluh menjadi tentara bayaran dan mengisi pos-pos pelayanan rakyat semesta. Sebagian mereka masuk Islam dari asal agama mereka yang Kristen, walaupun untuk mengetahui secara pasti jumlah mereka itu sulit dilakukan. Sebagaimana di negeri-negeri Islam yang lain, umat Kristen dan Yahudi mempunyai kebebasan menjadi warga minoritas yang terlindungi, tetapi biasanya penduduk minoritas ini adalah sekuler, tidak mempunyai kepemiminan agama, pertimbangan (comes, qumis) yang ditetapkan oleh raja yang berkuasa. Setelah ekspansi kerajaan-kerajaan Kristen abad tiga belas, umat Islam yang menetap di beherapa propinsinya dan dikenal sebagai kaum Mudejar yang kelihatannya lebih banyak ketimbang yang beragama Kristen, dan mereka kini seolah telah mempengaruhi wilayah kerajaan-kerajaan utara yang hingga waktu itu kurang kontaknya dengan umat Islam.

Hal yang penting dalam kontek kekinian adalah bahwa di Al Andalus terjadi interpretasi atau simbiosis kultur Arab yang lebih tinggi diperkenalkan para penakluk dan kultur Iberia lokal. Penulis Kristen abad sembilan menuduh bahwa semua pemuda Kristen telah dilanda oleh syair Arab dan lebih tertarik kepada bahasa Arab ketimbang bahasa Latin. Pada saat yang sama ada pijakan-pijakan pemikiran hingga terjadi pengaruh Iberia yang membawa adopsi bentuk-bentuk strofik syair Arab. Walaupun para ilmuwan tidak setuju, agaknya juga syair Andalus kadangkala berkenaan dengan seni troubadour Eropa. Contoh mengesankan fusi kultur-kultur ini nampak nyata di Sicilia, yang keseluruhannya berada di bawah kekuasaan Islam setelah tahun 902 Masehi, lalu diambil alih kembali oleh bangsawan-bangsawan Norman antara tahun 1060 dan 1091 Masehi. Sekalipun demikian, penguasa-penguasa baru Kristen mengadopsi sebagian adat-istiadat para penguasa Islam sebelumnya, yang dua kali dikuasai dari tahun 1130- 1154 Masehi dan 1215- 1250 Masehi berturut-turut, yang dikenal sebagai “dua kali sultan-sultan Sicilia dibaptis.”

Sejarawan berkewarga-negaraan Spanyol mencoba membedakan interpretasi Reconquista dan kebesaran Spanyol terkemudian. Banyak yang melihat ini sebagai berasal dari berkesinambungannya tradisi Katolik yang dipertahankan semenjak Spanyol Visiqothic. Kesulitannya di sini adalah karena Reconquista ini dimulai semenjak kerajaan kecil bangsa Austurias yang tidak menjadi bagian integral Spanyol Visiqothic melainkan malah menyerangnya, yang lebih mungkin hadir menjadi pandangan Americo-Castro dalam bukunya yang berjudul Structure of Spanish History. Dalam buku ini dia mengatakan: “Spanyol Kristen itu — muncul bereksistensi — sebagaimana ia digabungkan dan dicangkokkan ke dalam proses kehidupan yang dipaksa oleh interaksinya dengan dunia Islam.”

Reconquista dimulai bukan karena ide-ide keagamaan melainkan karena memuncaknya semangat dan hasrat rakyat untuk merdeka. Walaupun demikian, semenjak paruh abad ke sepuluh kepergian ke Santiago Compostela mulailah tumbuhnya peranan yang penting dan agaknya hal ini menyadarkan rakyat akan dimensi agama, terutama setelah dihancurkannya tempat suci itu oleh tentara Islam di tahun 997 Masehi. Kaum lelaki dari Leon, Navare dan Castile, melihat bahwa mereka bukan saja berjuang untuk kerajaan-kerajaan kecil mereka, melainkan berjuang melawan musuh dengan seluruh umat Kristen. Sebagaimana kesadaran ini tumbuh di tengah umat Kristen, demikian pula umat Islam menjadi sadar akan aspek-aspek perjuangan agamanya.

 

 

Sumber: TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN

Persepsi dan Salah Persepsi

 

William Montgomery Watt

Penerjemah: Zaimudin

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: