“Aku ini Ganesha atau Ganes Bunda?”

Cerpen Sandra Yuliana

Ganesha Hartini seorang wanita yang cantik berkrudung putih, wajahnya sangat berbinar-binar karena terdapat pancaran cahaya di kulit wajahnya yang putih merona. Setiap orang yang melihatnya, siapapun orangnya baik laki-laki atau wanita pasti tenang dan senang bila berada dekat dengan dia.

Ganesha lahir dari rahim seorang ibu yang bernama suhartini dan ayah yang bernama suhartono. Kelahiran ganesha sangat dinanti oleh mereka karena sudah satu tahun pernikahan mereka, mereka belum di karunia anak. Oleh karena itu disetiap doanya mereka selalu memanjatkan doa untuk dikaruniai seorang anak.

Kala itu kala itu matahari diufuk timur, beduk subuh mengaluni suara azan yang merdu itu.

“Aduh pak, sakit sekali perutku rasanya aku akan melahirkan sekarang, tolong aku pak.”  Teriak ibu Suhartini kesakitan
“Apa yang terjadi bu? Apakah ibu akan melahirkan sekarang? Tahan sebentar ya bu! Saya akan meminta bantuan sebentar,” jawab pak suhartono gugup.

Subuh itu pak Suhartono dan dibantu tetangganya membawa ibu Suhartini ke rumah sakit dekat rumahnya. Rumahnya berada di Jl. Cempaka Sari ditengah-tengah raminya ibu kota Jakarta.

Beberapa jam kemudian terdengar suara “ oe, oe, oe, oe……” suara itu terdengar amat kencang.

Lahirlah seorang bayi perempuan lucu itu. Pak Hartono sangat senang mendengarnya , karena bayi itu adalah bayi yang telah lama dinantikan. Pak Hartono kemudian masuk kedalam ruangan bersalin dan segera mengazani bayinya sesuai dengan agama islam, agama yang dianut keluarga mereka, apabila seorang keluarga mendapatkan seorang bayi yang baru lahir harus diazankan agar bayi mengenal agamanya. Begitu lengkap rasa kebahagian ibu  Suhartini dan pak Suhartono karena sudah mempunyai seorang anak perempuan. Anak itu bernama Ganesha Suhartini.
****

Beberapa tahun kemudian, Ganesha kini telah berusia 13 tahun. Ia baru saja lulus Sekolah Dasar di SD O1 Percontohan. Kini Ganesah akan melanjutkan ke Sekolah Menemgah Pertama (SMP). Ganesha sekarang bersekolah di salah satu SMP negeri yang cukup bagus di antara sekolah lain. Ia mendapat beasiswa karena kepandaiannya di waktu SD. SMP yang sekarang tempat ia menimba ilmu adalah SMP negeri 28.

Ganesha duduk di kelas unggulan, konon katanya kelas itu tempat sarangnya para cendekia. Ganesha terkenal anak yang pandai dan ramah. Dia tidak hanya pandai di bidang akademik. Ganesha juga banyak mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler  ia mengikuti oragnisasi OSIS dan Rohis karena ia berkerudung sejak kecil. Disekolah hampir semua guru dan teman-temannya kenal Ganesha.

Walaupun ia sangat pandai tetapi ia tidak sombong. Karena bundanya selalu mengajarkan arti hidup dengan sederhana. Tidak heran jika Ganesha banyak yang menyukai. Dari kelas satu sampai kelas tiga ia selalu mendapatkan kelas unggulan. Tidak terasa ia menjalankan  sekolah di SMP. Pagi itu ketika ia dan teman-temannya baru datang ke sekolah, mereka selalu melewati ruang OSIS. Didepan ruang itu terdapat papan pengumuman yang luas bagai lapangan bola senayan. Didalam papan itu selalu ditempel kertas-kertas yang menyeramkan bagi murid-murid disekolah itu. Salah satu pengumumannya itu tentang Ujian Akhir Nasional yang akan diselenggarakan.

Ganesha dan murid-murid yang lain harus belajar lebih giat untuk mendapatkan nilai yang bagus dan mereka semua mendapat sekolah SMA yang bagus di antara sekolah lain. Sekolah SMA awal keremajaan dimana kata orang-orang di sekolah SMA akan merasakan hidup yang berwarna-warni. Dimana kita akan merasakan bagaimana pergaulan, percintaan, dan masa depan.

Tak terasa ujian akhir itu selesai. Murid-murid kelas tiga termasuk Ganesha pagi-pagi sekali telah datang ke sekolah untuk menghampiri papan pengumuman itu. Semua perasaan berdebar-debar dan berharap mereka semua lulus ujian dan mendapat nilai yang baik. Berkrumunan semua disana sesak rasanya bila kita berada di situ karena semua disana ingin salin mendahului.

“Hore aku lulus,” teriak salah satu teman Ganesha.
“Yes, aku juga.” Sahut teman Ganesha yang lain. Terus saling menyahuti lagi yang lain.
”Alhamdulillah teman-teman aku juga,”  sahut Ganesha dalam kegembiraan semua teman-temannya karena semua lulus.

Ganesha pun segera pulang dengan senyuman meronanya karena diselingi lesum pipit diantara kedua pipinya.

“Asalamualaikum bun, bun, bunda.” Salam Ganesha mencari ibu Suhartini bunda dari Ganesha.
“Waalaikumsalam, ia sayang sebentar bunda sedang didapur, ada apa nak?” jawab ibu Suhartini dari dapur sambil menuju ruang tamu.
“Bunda, aku lulus dengan nilai yang baik.” Ganesha memberitahukan ibunya sambil memeluk gembira.

Beberapa minggu kemudian hari pembukaan sekolah SMA di mulai. Dengan diantar oleh sebuah mobil sederhana oleh pak Suhartono Ayah Ganesha. Ganesha dan bundanya pergi ke salah satu sekolah SMA favorit dekat rumahnya. Sampai akhirnya Ganesha diterima di sekolah itu. Sekolah itu adalah SMA negeri 27 jakarta. Ganesha sangat bersyukur karena telah diterima disekolah itu. Hari pertama di sekolah seperti biasa dari SMP Ganesah selalu mendapat kelas unggulan karena nilai UANnya yang bagus. Ganeshapun mempunyai sahabat baik bernama Mira dan Wulan. Mereka berdua selalu bersama. Ganesaha duduk di sebelah Mira dan Wulan dibelakangnya, Wulan duduk disamping temannya yang lain.

Mereka bertiga mengikuti ekstrakulikuler Rohis. Dan mengikuti organisasi lain yaitu OSIS mereka bertiga sangat kompak. Ganesha tidak hanya disenangi oleh sahabatnya tetapi ia disenagi oleh teman-temannya yang lain. Karena Genesha tidak segan membagi ilmu pengetahuan dengan teman yang lainnya, sebaliknya temannya pada Ganesha. Ia sangat senang bersekola disana bagaikan kicauan burung yang selalu bergandengan satu sama lainnya.
Dipertengahan sekolahnya,,,

Ganesha tidak hanya mempunyai teman dan sahabat yang mencintainya. Tetapi dia juga mempunyai seorang kekasih bernama Gozali, ia kakak kelas Ganesha ketua Rohis di sekolahnya. Pacaran mereka tak sepeti pacaran yang lain. Mereka berdua pacaran secara islami. Tidak pegang-pegangan dan saling menghormati karena Ganesha memakai krudung. Mereka selalu berbagi ilmu pengetahuan agama maupun akademik. Karena Gozali juga terkenal pandai. Sore hari setelah pulang sekolah, diruangan OSIS Ganesha, Mira, Wulan dan anak-anak OSIS yang lain sedang mengadakan rapat. Ketika itu Ganesha ingin mengambil sebuah map folder yang berisi bahan-bahan yang akan dirapatkan. Diatas lemari yang agak tinggi itu Ganesha mengambil sebuah bangku dan segera menaikinya untuk mengambil map itu.
“Au,,,,,,,,, Bruuukkk” . Ganesha berteriak hingga akhirnya dia pingsan. Teman-temanya kaget dan segera menghampirinya.
“Ganesha???  Tolong ganesha teman-teman, cepat Bantu aku“. Wulan panik.
Kemudian teman-teman OSIS lainnya segera membawa kerumah sakit.
Disana juga ada Gozali, dia amat sedih. “Ya ALLAH mengapa aku membiarkan Ganesha terjatuh”. Teriaknya dalam hati (penyesalan).

Semuanya panik dan sedih. Kemudian Mira sahabat Ganesha segera mnelfon keluarga Ganesha untuk memberitahukan semua ini.
“Asalamualaikum, bisa bicara dengan bunda Ganesha?” Mira menelfon tampak gugup.
”Waalikumsalam, ia benar saya sendiri, ini siapa ya? Dan ada apa?” Jawab ibu Suhartini.
“Ini aku tante, Mira! Ganesha tante, ia masuk rumah sakit karena tadi terjatuh di ruang OSIS saya harap tante segera datang kerumah sakit.” Mira Mengatakan.
“Apa Mir? Dimana rumah sakitnya? Tante dan Om akan segera kesana, terima kasih ya !” Ibu Suhartini menjawab.

Beberapa menit kemudian kedua orang tua Ganesha datang kerumah sakit itu. Rumah sakitnya di Cipto Mangunkusumo, sambil tergesa-gesa mereka mamasuki rumah sakit itu. Mereka khwatir terhadap keadaan Ganesha putri satu-satunya.  Mereka pun langsung menghampiri ruangan tempat Ganesha dirawat. Di ruangan itu masih ada sahabat-sahabat, teman-teman dan kekasih Ganesha.
“Sabar yah tante, om…. Pasti ganesha akan sembuh” Wulan menyemangati kedua orang tua Ganesha.

Tidak beberapa lama kemudian sahabat, teman-teman dan kekasih ganesha pamit pulang.

“Om, Tante kami pamit pulang dulu ya! Sudah sore”. Wulan pamit mewakili teman-teman yang lain.

Pak Suhartono dan Ibu Suhartini sedih karena Ganesha belum siuman. Berhari-hari mereka menunggu. Siang itu hari keempat, bunyi suara ketukan pintu di ruangan itu
“Tok,tok,tok.”Bunyi itu menghampiri ruangan itu.
Ternyata seorang dokter yang merawat Ganesha.

“Permisi apakah kalian orang tua dari Ganesha?” Tanya dokter.
“ Ia betul kami orangtuanya.” Jawab orang tua Ganesha.

Kemudian dokter mengajak ibu Suhartini dan Pak Suhartono kedalam ruangan dokter itu. Ruangan itu banyak sekali perlengkapan dokter yang canggih. Kemudian dokter itu mengatakan sesuatu kepada mereka yang orng lain pun tidak akan percaya dan akan tercengang-cengang.

“Bapak, ibu saya harap kalian harus percaya dan tetap sabar pada keajaiban ini, dan mungkin  ini tidak masuk akal.” Dokter itu mengatakan bijaksana.
“Ada apa pak? Apapun kami akan menerima cobaan ini.” Jawab pak Hartono berdebar-debar jantungnya.

Kemudian dokter itu menjelaskan, bahwa genesha mempunyai dua kelamin tim dokter tadinya juga tidak percaya tapi ini kejadian tidak tahu apa nama penyakit ini, yang lebih membuat anehnya lagi Ganesha tidak mempunyai payudara hal layaknya wanita dewasa lainnya. Jadi menurut dokter  Ganesha itu adalah Laki-laki. Dan sebelum Ganesha siuman dia harus segera di Operasi. Agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Bigaikan suara petir mengguncang dunia perasaan kedua orang tua Ganesha mendengar kabar itu. Akhirnya kedua orangtua Ganesha menyetujui dan menerima operasi itu demi kesembuhan Ganesha. Operasi pun dilakukan,
Setelah operasi dilakikukan berjam-jam Ganesha pun siuman. Dia bingung melihat keadaan yang ada pada dirinya sekarang.

“Siapa saya? Apa saya telah meninggal? Apa saya amnesia?” Tanya Ganesha pada kedua orangtuanya.

Kemudian kedua orang tua Ganesha menceritakan semuanya. Ganesha mengamuk, sedih, malu, dan tidak percaya, itu yang ia rasakan saat itu. Kini rambut yang ia selalu tutupi dengan kerudung putih itu di lepas dan pendek seperti laki-laki. Akhirnya Ganesha pun pulang ke rumahnya. Di rumah ia selalu murung tidak seperti Ganesha yang dulu mungkin karena dia tidak merasa itu dia. Ganesha malu pada sahabat-sahabatnya, teman-teman dan lebih malu lagi pada Gozali kekasihnya. Karena dia kini sama dengan Gozali yaitu sama laki-laki.

Setiap teman-temannya telepon pasti selalu di katakan Ganesha dirawat di luar negeri, itu membuat teman-temannya khawatir.  Padahal ia selalu di rumah ia masih malu dengan keadaanya. Tapi kedua orangtua Ganesha selalu memberi perhatian yang lebih agar Ganesha menerima semua ini.

Sudah dua bulan Ganesha tidak hadir kesekolah. Dalam dua bulan itu dia selalu murung, tapi semangat kedua orangtua Ganesha membuat Ganesha menyadari dan menerima semua itu dan harus meyakini bahwa semua ini kekuasaan ALLAH. Akhirnya Ganesha pun menyadarinya dan menerima semua itu dan kedua orangtua Ganesha mengganti nama Ganesha dengan Ganes Hartono. Ujianpun sudah dekat hal ini yang memaksakan Ganesha harus masuk sekolah. Dan hal ini juga yang membuat dia harus mengakui bahwa dia sekarang adalah seorang laki-laki tampan bernama Ganes Hartono.  Bukan Ganesha Suhartini gadis berkrudung yang lembut.
****
Pagi itu cerah dengan disertai kicauan burung yang merdu. Seorang laki-laki tampan bernama Ganes datang ke sekolah tercinta itu. Murid-murid wanita SMA 27 tercengang karena ketampanan pria itu. Ganes tersenyum menyapa teman-teman lamanya yang tidak mengenalinya.

“ kring, kring”. Bel berbunyi tanda apel dimulai.

Murid-murid pun berbaris rapih. Lalu pria tampan itu atau Ganes dan gurunya berdiri didepan barisan murid-murid hendak ingin memberikan ceramah. Kemudian dengan agak sedikit gugup dan agak malu karena  berhadap-hadapan pas depan Gozali kekasihnya dulu, Ganes harus mengakui hal yang tidak masuk akal ini. Tanpa basa basi akhirnya Ganes laki-laki tampan itu mengakui bahwa sebenarnya ia adalah Ganesha Suhartini teman lamanya. Barisan yang tadinya rapi dan diam itu menjadi ramai bertanya-tanya.

” Hah, apa yang terjadi? Apakah mungkin?” pertanyaan-pertanyaan pun bergeming di lapangan besar itu.

Lalu Ganes mencoba menenangkan, Ganes meminta teman-temanya yakin dan pengertian untuk dirinya. Terutama Gozali kekasihnya. Ganes pun tidak percaya mengapa ini bisa terjadi, apa sebenarnya penyakit yang diderita olehnya? Namun ini adalah kekuasaan ALLAH. Dan mereka semua pun  harus mengakui bahwa sekarang Ganesha Suhartini tidak ada lagi, yang ada adalah Ganes Hartono.  Laki-laki tampan yang gagah dan tidak berkerudung seperti dahulu.

——–

sandra_cuthe@yahoo.com>

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: