Sepenggal Kisahku Di Idul Fitri

Oleh: Rizka Amalia

Inilah kejahatan dan kesalahanku paling fatal! Aku menjadi maling di toko adik kandung ayahku sendiri. Sungguh bodoh aku ini! Aku mencuri barang – barang yang ada di toko itu yang nilainya tidak kurang mencapai 10 jutaan.

***

Malam itu langit begitu terang, bintang-bintang bertaburan menemani bulan yang dengan gagahnya menerangi bumi. Namun saat itu aku mabuk, mabuk dikerumunan teman-temanku! Tak tahu setan apa yang merasuki, aku pun melakukan tindakan bodoh yang memalukan itu!

Saat itu pasar tempat aku biasa mencari uang untuk mengganjal perut sedang sepi. Pasar Rawu tepatnya, pasar terbesar di kota Serang. Malam itu tidak ada orang ataupun satpam yang lewat juga berjaga. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, langsung saja ku gasak barang-barang di dalam toko Paman ku itu, toko tempat aku tercatat sebagai salah satu pegawainya setiap hari. ”Ha..ha.. besok aku akan jadi orang kaya”,gumam ku dalam hati.

Setelah aku merasa puas menjarah toko Pamanku, akupun langsung beranjak meninggalkan pasar itu. Abang becaklah yang aku suruh membawa barang-barang itu ke tempat temanku, awalnya si abang curiga dan ia tak mau membantuku. Tapi setelah aku yakinkan kalau aku disuruh pamanku dan itu adalah tokonya, barulah si abang becak mau membantuku. Disana, barang haram itu kubagi-bagikan kepada teman-temanku. Mungkin, aku hanya memakan 1/20 dari barang tersebut

***

Pagi pun tiba, raga dan akal tidak lagi dipengaruhi oleh botol keparat yang membuatku harus melewati malam tadi. Aku terpaku! Jiwaku menerawang.

”apa yang telah aku lakukan? Toko Paman? Semalam? Teman-teman? Huuumph! Aku telah mencelakai diriku sendiri”, ujar ku dalam hati.

“Paman lu ma bibi lu sekarang lagi marah-marah! Mereka sedang memaki-maki pencuri tokonya itu, ada polisi di sekitar sana”,ujar febi tibatiba, diiringi wajah tegang.

“FIUH!!!” Dada ku sesak, tak tahu harus berbuat apa!

“Dan katanya lagi, paman lu udah tau siapa pencuri tokonya itu, dan itu Elu”, tambah Febi lagi!

kini hati ku benar-benar semeraut! Takut, sesal, berpadu menjadi satu, “tolong aku… tolong…,”rintihku dalam hati!

“Siapa yang mengadukan ini? Lu semua musuh dalam selimut!”, ucapku dengan nada tinggi.

“jangan sembarangan Lu! Masa gue bakal ngekhianatin Lu? Lagipula Elu kan bagibagiin tuh barang ke Kita ”, sahut Febi.

“Iya… “terus siapa??”, Tambah ku lagi.

“Oya, semalem lu kesini ama tukang becak bukan?”, Cetus Febi lagi…

kini Aku benar-benar lemas, ragaku lunglai. Tuhan tolong aku… wajah ku memerah, badanku gemetar…

Kini akupun menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) kepolisian. Bermain petak umpet, seraya mengisahkan saat dulu aku kecil, bermain bagai seorang polisi yang mengeja-ngejar mavia jalang. Hal ini membuatku menjadi manusia nomaden, berpindah-pindah tempat guna mencari perlindungan.

***

15 hari telah berlalu, ada kabar yang menggembirakan. Kata burung jalanan, kasusku yang dibawa kepihak berwajib kini telah dicabut. Apa alasannya, aku tidak tahu! Namun, instingku menyatakan itu adalah inisiatif pamanku karena memandang iba ayah dan ibuku, juga mungkin aku. Kusadari, yang paling tersakiti oleh ulahku adalah istri paman .Oleh karena itu, pada awalnya Ia tidak terima bila kasusku dicabut. Wajarlah, Karena toko itu didirikan oleh Paman dan Istrinya. Bukan paman saja! Mereka adalah pasangan suami-istri yang mencari nafkah dengan berdagang bersama-sama dalam satu toko. Pun harus diakui Istri pamanlah yang lebih mendominasi dalam urusan keuangan.

Peristiwa ini telah membuat hidupku berubah, kini dunia terasa sempit bagiku! Jelas saja, biasanya kuhabiskan waktu setiap harinya dengan membantu Paman sebagai parmuniaga di Tokonya. Kini, jangankan untuk menemui Paman guna meminta maaf, masuk Pasar yang sebenarnya besar itupun aku tidak berani. Belum lagi, kini apa saja yang ku usahakan seakan-akan tidak memiliki nilai berkah. Bodohnya lagi, aku tidak bisa berhenti berkawan dengan minuman yang menyesatkan itu.

Orang tuaku marah padaku. Walau kasusku telah dicabut oleh paman, bara kebencian istri paman masih menyala membakar ibanya terhadap ayah dan ibuku. Aku adalah anak pertama dari delapan bersaudara yang memiliki orangtua dengan ekonomi yang harus kukatakan kurang. Ayahku tidak memiliki pekerjaan karena sakit-sakitan, Ibuku juga hanya Ibu rumahtangga yang berjibaku merawat adik-adikku yang terakhir dan yang ke tujuh, karena masing-masing mereka masih berusia 2 bulan dan 13 bulan. Ekonomi keluarga di topang oleh aku dan kedua adikku yang perempuan. Kami mencari uang dengan menjadi pramuniaga di Pasar Rawu. Bisa ditebak penghasilan kami jika digabung jumlahnya 45 ribu/hari dapat dikatakan kurang untuk menghidupi ke 12 penghuni rumah kontrakan minimalis itu. Biasanya, Pamanlah yang bantu-bantu Ayah tiap bulannya bila Kami tidak memiliki uang untuk bayar kontrakan atau biaya dadakan bila adikku sakit. Namun demikian, Orang tua adalah orang tua yang kasihnya tak lekang oleh zaman. Mereka pun memberikan maafnya kepadaku walau kini Ibuku harus menanggung ulahku.

Jauh dalam sanubari, kusadari betapa aku sangat menyesal! Aku ingin memohon ampun pada paman dan istrinya. Namun, Aku tidak berani. Aku tak lebih bagai pecundang, mungkin lebih hina daripada itu. Tak bisa kupungkiri, aku rindu oleh sapa kasih keluarga paman dan istrinya. Aku rindu senyum tawa mereka yang terkirim untukku. Padahal, sebelum masalah ini kubuat, paman dan istrinya adalah orangtua kedua bagiku. Aku amat dekat dengan mereka; tawa, senyum, serta marah-marah sayang mereka masih terekam jelas diingatanku. Namun apalah daya, aku sangat lemah. Aku pengecut! Jauh di lubuk hati ini aku berjanji, aku harus memohon maaf kepada mereka. Kapanpun itu!

***

Suatu hari aku diajak temanku untuk berdagang di sebuah kota dikawasan Jawa Barat, Bogor tepatnya. Memang banyak orang yang memandangku sebagai pemuda nan cekatan lagi supel “ PD sekali aku!”. Akupun menerima ajakan teman ku itu, itung-itung tidak menjadikan aku sebagai si penganggur. Serang dan Bogor, sebenarnya aku tidak pergi terlalu jauh dari kediaman ibu bapakku, tidak sampai antar pulau lah!

Disana aku berdagang di pasar malam, sering aku terpikir untuk menemui orangtua ku secepatnya. Apalagi sebulan yang akan datang gemuruh takbir datang menggema, hari nan fitri akan tiba. Namun, bagaimanapun aku harus tetap di kota itu sebagai kawan yang baik dan sebagai pekerja yang profesional.

Disana, hampir setiap hari aku menyusun cara guna mendatangi kediaman paman dan istrinya, untuk memohon maaf kepada mereka di hari nan fitri nanti. Karena tak bisa kubohongi, jiwa ini butuh ketenangan, dari cerita indah, datangnya maaf seorang bibi teruntuk ponakannya. Aku pun mengajak teman yang aku rasa dia cukup bertanggung jawab dalam hal ini, yaitu karena dia memakan banyak dari harta haram itu dan itu adalah Febi. Sahabatku juga penghancur hidupku! Karena dia adalah salah satu orang yang menyuruhku berbuat tindakan bodoh itu. Tidak ku pungkiri, itu kulukukan guna menjelaskan kalau aku bukan satu-satunya pelaku utama pencurian itu. Namun sayang, kawanku itu keberatan, entah lah?!

***

Aku adalah pencinta minuman keras. Aku terjebak oleh pergulatan anak kampung mencari bahagia dirantau orang. Asliku adalah anak minang, 10 tahun lalu,setelah tamat SD, aku dihantarkan oleh ayahku ke Serang, dan itu ku lakukan dengan tujuan mencari kerja untuk perbaikan hidup di masa akan datang. Walau sebenarnya, duka sering singgah di hatiku! Jiwa ini mempertanyakan mengapa hidup ini harus kujalani seperti ini! jauh meninggalkan sanak saudara di usiaku yang masih belia dan sekolah pun tak bisa ku lanjutkan, padahal betapa inginnya aku menatap hari esok lebih cerah, mengenyam bangku sekolah lebih tinggi hingga kuliah di perguruan tinggi.” Entahlah! Asa itu hanya akan membuatku terluka dalam duka tiada usai…

***

Takbir berkumandang! Sayang, kuhabiskan malam itu dengan meminumminuman haram yang menyesatkan itu. Sungguh… jauh dilubuk hati ini, aku ingin hindari semua, aku ingin berubah! Aku ingin keluar dari lingkaran setan yang menyesatkan hidupku ini. Namun aku tak berdaya! Hati ku meringis, meratapi nasib yang telah ku rusak ini. Aku rindu Ibu… Aku rindu hangat belainya. Sesungguhnya Aku adalah anak yang tidak bisa melihat Ibuku menangis. Membantaknya pun aku tak mampu. “Ibu… Aku ingin bersamamu”. Doa-doa kulantunkan pada pemilik hidup ini:

YA ALLAH, ampunilah segala salah ku

Sungguh aku amat hina untuk memohon ampunan-MU

Aku tiada menjalankan perintah MU

Aku berkawan pada barang yang KAU haramkan

Aku telah menyakiti hati Ibuku

Tuhan, ampunilah aku…

Hambamu yang nyatanya tidak mampu hidup tanpa-Mu,

Aku mohon ampuni aku Tuhan..

Bimbing aku menuju hidayah MU, YA ROBB.

Aku menyesal…

Aku ingin meminta maaf kepada Bibi dan Pamanku

Aku ingin Ibuku tidak bersedih lagi..

Ampunilah aku YA ALLAH.

***

Syawal hari ke-5, aku pulang. Aku dihantarkan ke kediaman paman ku, aku di sambut tangis keluargaku, mereka meratapi nasib ku.

Kini aku benar-benar telah tidak berdaya. Sekujur badan ku kaku! Inilah kali terakhir kedua orang tuaku, paman serta semua orang dapat melihatku. Aku pergi tanpa satu orang pun tahu apa penyebab pastinya! Apakah karena aku overdosis minuman atau ada orang yang memang sengaja meracuniku, entahlah! Karena kenyataannya tubuhku tidak diotopsi

Kini aku telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dunia yang fana ini. Aku bersyukur pada Tuhan, akhirnya aku dapat menginjakkan kaki ku lagi kerumah paman dan istrinya. Walau itu terjadi saat jasad ini telah terpisah dari rohnya.

kini, aku hanya dapat berharap diakhir kisahku ini, paman dan istrinya rela mengirimkan maafnya kepada keponakan yang bejat namun malang ini. Dan pada saatnya nanti ibu dan ayah tidak lagi di benci oleh keluaga paman.

Selamat tinggal ibu

Selamat tinggal ayah

Doakan aku agar bahagia di alam yang baru.

Untuk Ibu: “Jangan sedih lagi ya Bu, Aku sayang Ibu”.

***


  1. Panjang banget ceritana
    jd malez dehh bacana
    hehe *pizz ka*

    biarpun gw ga baca mpe abiz
    tp gw rasa baguz nie crita
    (sotoy ya gw baca aja kaga hehe)

    tetep semangat ya rizka wat nulis cerpen
    buat mas.nya kasi support terus
    tar gw bantu publish jg
    ..n_n..

    • maklum masih pemula….
      masih anak bawang bila dibandingkan dengan Mira W, Asma Nadia, JK Rowling, dan penulis perempuan lainnya…..
      hehe

    • NitanyaARIO
    • May 14th, 2010

    wahhh nofun tuch bilang support tapi ndak di baca,, huh.. dasar..

    se se se
    aku ambil kacamata dulu,,,
    gelar tiker dulu,
    nyiapin tiker dulu,,
    ambil selimut dulu.
    okeh okeh okeh
    sabar yaaaahhhh

    • Amalia
    • May 14th, 2010

    Makasih Akhi udah nge-publish cerpen ini,,, :))
    uuu,,, Ade jadi terharu dan malu,hihi*lebay.com*
    (^_^)

    Novan: Makasih Novan atas support dan atensinya…
    iyah,,, emang kepanjangan cerpennya,,,

    Titanya Ario: Makasih Sayang,, semoga cerpen ini bisa jadi teman tidur Kamu,,,😛

    mmm,,, tapi baca deh,,, bagus tau,,,
    huhu,,,
    ngarep.com
    o.OO.o

    • dasar malu-malu kucing….
      dariapada tersimpan di laptop mendingan di publish supaya ada yang baca,,,
      ada yang komen,,,
      ada yang ngeritik…
      ada yang ngata-ngatain….
      hehehe…..

    • Amalia
    • May 14th, 2010

    hehe,,,
    iyahiyah…
    ini lagi nunggu dikata-katain Ay,,,🙂
    tapi semoga hati ade bisa sekuat baja,haha…
    ^_^

    • baikhatidantidaksombong
    • May 17th, 2010

    BAGUS!!! Tapi akhirnya jadi aneh,, masa roh bisa nulis cerita…

    • noem
    • May 19th, 2010

    ceritanya c emang bikin ngantuk ka,, hehe… tp di awalnya aja ko, mpe tengah,
    cerita di akhir yang bqn num merinding, coba perbaikin depannya biar ga bikin bosen, ok..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: