BERBURUK SANGKA???

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.[QS 49:12]

Allah mencantumkan hal ini dalam Al-Qur’an tentunya bukan tanpa sebab. Allah yang Maha tahu, yang menciptakan manusia, tentunya sangat mengetahui bagaimana seringnya manusia berprasangka, dan betapa jelek/buruk dampak yang diakibatkan oleh prasangka tersebut.

Dari ayat tersebut diatas kita mendapat wasiat dari Allah untuk :

1 . Jauhi prasangka.
2 . Jangan mencari-cari keburukan orang.
3 . Jangan menggunjingkan orang lain.

Kalau kita analisa, ketiga larangan tersebut, sebenarnya satu paket, yang apabila larangan pertama dilanggar, maka larangan kedua akan menyusul kita langgar.  Larangan ketiga pasti kita langgar juga, bila larangan kedua sudah kita kerjakan.

Mengapa menyimpan sebuah prasangka itu termasuk perbuatan dosa? Padahal dalam hal ini tidak ada pihak lailn yang akan terdzalimi dari prasangka yang kita bangun dalam diri kita sendiri? Jika kita curiga pada seseorang yang menampilkan perilaku menawan pada orang lain sebagai seorang musang berbulu domba misalnya; orang yang kita curigai tersebut akan terbebas dari fitnah (pengrusakan nama baik) yang kita sebarkan pada orang banyak jika kecurigaan tersebut kita simpan di dalam hati. Orang tersebut juga terbebas dari kebohongan yang bisa jadi bersumber dari kecurigaan (prasangka) dalam diri kita sendiri. Tapi tetap; kita terejerumus dalam perbuatan dosa. Mengapa? Hal ini karena Allah tidak menginginkan manusia , merusak dirinya sendiri. Dengan menyimpan sebuah prasangka di dalam diri (meski tidak untuk disebar-luaskan, apalagi jika disebar luaskan), sebenarnya kita sedang menelusuri proses merusak pikiran dan diri kita sendiri. Karena curiga yang tidak beralasan akibat sebuah prasangka buruk pada seseorang, jika orang tersebut hadir di hadapan kita; kita merasa bahwa dunia ini menjadi sempit dan panas karenanya. Makan tidak terasa enak, duduk terasa duduk di atas duri; dan dada ini terasa terhimpit oleh sebuah rasa yang mengiris-iris kepedihan. Mereka yang menjadi dicurigai tidak merasa apa-apa dan tetap dapat menjalankan kehidupannya dengan normal tapi sebaliknya kita, yang menyimpan prasangka terhadapnya akan selamanya terpenjara dengan prasangka buruk yang kita simpan tersebut.

Mau datang ke suatu tempat yang sebenarnya memberi manfaat bagi kehidupan sosial kita tidak bisa karena si dia yang tercela berada di sana juga. Mau mengikuti suatu kegiatan yang berguna bagi ruhiyah kita, menjadi tidak bisa karena kembali si dia yang tercela juga ikut kegiatan tersebut. Bahkan suasana hati yang semula cerah cerita tiba-tiba berubah 180* menjadi tak menentu dan kelabu hanya karena bertemu si dia di persimpangan jalan. Wah. Dunia rasanya menjadi sempit karena kesulitan yang kita bangun sendiri. Dan kian lama, tembok penjara kebebasan diri kita sendiri semakin tinggi menjulang dan terpancang dimana-mana akibat prasangka yang bersemayam di dalam diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita telah berbuat dzaliim pada diri kita sendiri. Telah kita siksa diri kita untuk menerima sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar adanya. Telah kita hukum diri kita sendiri untuk menjalani kesempitan dan kesusahan dalam hidup ini atas sesuatu pikiran yang sebenarnya masih berupa sebuah perkiraan belaka. Muara dari semua kesengsaraan ini tidak lain dan tidak bukan bermuara pada lautan tidak dapat mensyukuri nikmat Allah.

Yah. Dengan menyimpan prasangka buruk dalam diri kita, cepat atau lambat maka kita akan terjermus untuk menafikkan semua karunia dan kenikmatan yang diberikan Allah pada diri kita. Dan lebih bahaya lagi, sebuah prasangka buruk akan membawa kita untuk menafikkan kebesaran Allah dan pada akhirnya ber-prasangka buruk pada Allah. Naudzubillah min dzaliik.

dari berbagai sumber

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: